http://i55.tinypic.com/1262osp.jpg Di Balik Gemerlap Hong Kong dan Pengaruhnya pada TKI/BMI 2

ADI AGEN RESMI CMP

ADI AGEN RESMI CMP

Senin, 21 Maret 2011

Di Balik Gemerlap Hong Kong dan Pengaruhnya pada TKI/BMI 2

Aksi BMI Hong Kong menuntut haknya
Aksi BMI Hong Kong menuntut haknya
Meski jumlah BMI menduduki peringkat teratas di Hong Kong, namun hal tersebut bukanlah prestasi yang membanggakan. Bertambahnya jumlah angka tidak menjamin kesejahteraan BMI di LN. Apalah artinya bertambahnya kuantitas jika tidak diimbangidengan kualitas dan mutu yang baik dari tenaga kerja yang ada. Sementara itu pemerintah berusaha menambah jumlah ekspor Pebruari 2010TKI nya untuk tahun 2010 ditargetkan 500.000 jiwa berangkat ke luar negeri.(Dikutip dari :Tabloid Berita Indonesia, edisi 80,). Tetapi apakah pemerintah mengetahui bagaimana situasi dan kondisi sebagian warganya di Hong Kong atau negara-negara lain? Ataukah mereka hanya mendengar laporan yang baik-baik saja dan” Asal Bapak Senang Saja”?
Hong Kong yang terkenal sebagai negara maju dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan HAM, ternyata masih belum mampu melindungi hak-hak pekerja yang ada secara menyeluruh. Masih ada diskriminasi yang diterima oleh sebagian BMI. Terbukti masih banyaknya berbagai kasus yang dihadapi BMI, mulai dari kasus underpayment, pelecehan seksual, penganiayaan , maupun tindakan majikan yang dengan sewenang-wenang menghentikan kontrak kerja setiap saat mereka suka. Akibatnya BMI juga yang dirugikan karena mereka harus mencari majikan baru dan harus mengalami potongan gaji lagi. Tak ada pilihan yang lebih baik karena mereka harus menentukan untuk pergi ke Macau sambil mencari majikan baru atau pulang kembali ke Indonesia dengan tangan hampa. Hal ini disebabkan masa berlaku visa mereka hanya 2 minggu setelah pemutusan kontrak kerja. Bila tidak segera pergi maka pihak imigrasi akan menangkap mereka dan sulit untuk mendapatkan majikan baru lagi.
Tidak sedikit kejadian BMI mengalami interminit pada saat mereka baru bekerja beberapa bulan atau beberapa minggu. Bahkan ada pula yang diinterminit saat baru bekerja 2 hari. Sungguh menyedihkan!Masih dikatakan beruntung bila baru beberapa hari atau beberapa minggu diinterminit, yang lebih parah adalah disaat mereka bekerja 7 bulan lalu diinterminit. Semestinya pada bulan ke 8 mereka baru berhak menerima gaji penuh, tetapi karena mengalami interminit, terpaksa mereka harus mencari majikan baru dan mendapat potongan gaji lagi selama 3-4 bulan. Dapat dibayangkan betapa berat beban yang dipikulnya, sementara keluarga di rumah kadang tidak mengerti dengan kondisi yang sebenarnya. Bekerja hanya untuk menghidupi agen yang memotong HK $ 3000x 7 bulan, lalu dipotong lagi dan lagi. Hal inilah yang sering jadi bahan tuntutan BMI baik melalui surat resmi ataupun aksi-aksi demonstrasi.
Budaya Klenik Yang Kerap Jadi Masalah BMI
Berdo'a atau percaya pada klenik?
Berdo'a atau percaya pada klenik?
Ketakutan para BMI menghadapi ancaman interminitterkadang membuat mereka mencari jalan pintas dengan menggunakan cara yang tidak masuk akal,yaitu dengan memasukkan sesuatu ke dalam makanan majikan mereka seperti air kencing atau (maaf) darah haidnya. Seperti yang dimuat Tabloid Suara edisi 132 ( Pebruari 2010), tentang seorang BMI asal Jawa Tengah diajikan ke pengadilan diEastern Magistrate’s Court-Hong Kong karena mencampur air kencing ke dalam rebusan air minum.
Ini bukan yang pertama kalinya terjadi karena kerap kali BMI melakukan hal semacam itu, dengan alasan agar di sayang majikan dan tidak di interminit. Beberapa bulan yang lalu juga dilakukan oleh BMI asal Jawa Timur dengan mencampurkan darah haid ke dalam sup yang dimasak untuk majikannya. Mereka diajukan ke meja hijau dengan dakwaan menggunakan racun atau bahan berbahaya untuk melukai majikannya.
Semestinya hal ini juga menjadi keprihatinan pemerintah / PJTKI agar calon TKI dibekali dengan pendidikan iman yang kuat disamping pendidikan bahasa dan ketrampilan. Seperti yang diungkapkan oleh Christina, Staff pengajar dari Christian Action, “Calon tenaga kerja seharusnya mendapat pendidikan yang imbangporsinya, yaitu bahasa 30%, ketrampilan 40% dan pendidikan mental 30%. Yang mana pendidikanmental ini meliputi agama/keyakinan, kepercayaan pada diri sendiri, kesiapan dan kemampuan dalam menghadapi budaya yang berbeda.”
Para calon tenaga kerja juga harus dibekali dengan keberanian untuk membela dirinya jika terjadi hal-hal buruk yang menimpanya, bukannya malah dikebiri dan ditakut-takuti. Akibatnya mereka yang menerima ketidak adilan sesampai di Negara tujuan, tidak tahu harus bagaimana lalu mereka mendapat informasi yang salah sehingga mereka malah melakukan hal-hal yang bertentangan hukum.
Penilaian Orang Hong Kong Pada BMI
Kasus underpayment atau gaji di bawah standar yang masih di alami oleh sebagian kecil BMI, biasanya memang ulah agency dan PJTKI. Seperti yang diceritakan oleh Mrs Tang Loi, ibu dari majikan saya, bahwa dia pernah ditawari oleh temannya untuk mengambil pembantu dari Indonesia, yang bisa dibayarHK$ 2000 dan tidak terlalu merepotkan jika sewaktu-waktu tidak suka bisa dihentikan lalu ambil yang baru lagi. Menurut Mrs Tang Loi, itu banyak dilakukan oleh teman-temanya karena mengambil pembantu dari Indonesia sangat mudah dan murah. Beda jika mereka ambil dari Philipina, harus tetap mengikuti prosedur yang berlaku karena pemerintah Philipina tidak mengijinkan TKWnya diperlakukan seenaknya.
Orang-orang Hong Kong menilai buruh migran asal Indonesia rajin, cekatan, telaten, sabar menghadapi orang tua dan pandai berbahasa Cantonese.Selain itu mereka juga penurut, nrimo dan pasrah sehinggabisa dibodohi dengan mudah. Lantas apakah karena itu kita bangga jika jumlah BMI di Hong Kong semakin bertambah?
Hanya dengan kesadaran pihak pemerintah agar mampu bertindak tegas pada PJTKI yang masih membiarkan TKWnya diperlakukan tidak adil, maka lambat laun citra BMI bisa terangkat dan mempunyai nilai yang lebih di mata negara-negara lain. Semoga kesadaran itu tak hanya dimiliki oleh pemerintah dan PJTKI, tetapi juga ditanamkan pada calon TKI sehingga saat mereka diberangkatkan punya rasa percaya diri yang kuat serta siap menghadapi segala macam tantangan. Yakin akan kemampuan kerja yang dimiliki akan membantu BMI menjadi manusia-manusia yang tangguh di tengah perjuangan mereka. Tetap menjaga adat budaya asalnya dan bisa beradaptasi dengan budaya yang ditempati tanpa harus terpengaruh oleh pengaruh buruknya. Semoga BMI akan jadi pejuang sejati…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar