http://i55.tinypic.com/1262osp.jpg ADI AGEN RESMI :CMP-3 GREEN-NESSV-MR PRO: kandungan do'a

ADI AGEN RESMI CMP

ADI AGEN RESMI CMP
Tampilkan postingan dengan label kandungan do'a. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kandungan do'a. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

pngemis

Pengemis identik dengan orang miskin, kurus kering, dekil, dan kurang makan, tetapi ternyata di Indonesia mengemis sudah dijadikan profesi, terorganisir, bahkan dengan penghasilan yang menggiurkan. Beberapa hari terakhir ini orang sedang ramai membicarakan fatwa haram mengemis yang dikeluarkan oleh MUI Kabupaten Sumenep, Madura, dan kemudian didukung oleh MUI Pusat. Sebelumnya ada beberapa daerah di Indonesia yang memberlakukan larangan maupun himbauan untuk tidak mengemis dan memberi uang kepada pengemis, pembersih mobil di jalan raya, serta membeli dari pedagang asongan; bahkan dilengkapi dengan sanksi denda atau kurungan.

Saya sepenuhnya mendukung fatwa haram mengemis, sebab sesuai fatwa tersebut, mengemis itu merendahkan diri sendiri dan menyuburkan sifat malas, serta merugikan orang lain; sebab lebih baik memberi daripada meminta-minta, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, begitu ajaran Islam. Tetapi kenapa ya justru di Bulan Ramadhan yang mulia ini jumlah pengemis semakin banyak? Mungkin seperti diketahui bahwa Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat untuk setiap perbuatan baik di Bulan Ramadhan, termasuk bersedekah. Jadi seperti hukum ekonomi, ada permintaan ada penawaran, banyak yang bersedekah, banyak pula yang mengemis....

Tentang himbauan atau larangan bagi pengemis, pembersih mobil, dan pedagang asongan; menurut saya pun patut didukung sebab selain membahayakan pelakunya kegiatan di jalan raya tersebut menyebabkan ketidaktertiban dan kemacetan. Tentu diharapkan setelah ditertibkan para pengemis dan mereka yang mencari uang di jalan raya tersebut diberikan jalan keluar untuk mendapatkan alternatif sumber nafkah yang layak.... wah, memang susah betul ya jadi pemerintah!

Bagi kaum muslimin kalo pengin mencari berkah yang berlipat di Bulan Ramadhan ini mungkin harus lebih selektif dalam memberi, carilah lembaga penerima yang dapat dipercaya. Jika mungkin lebih baik memberi saudara kita sendiri atau tetangga kita yang kurang beruntung. Agak ribet juga sih, tapi hitung-hitung sambil silaturrahim gitu.... Dan, ya, tentu saja lebih baik tetap memberi walaupun bukan di Bulan Ramadhan, dan memberi lebih banyak lagi di Bulan Ramadhan....

Dan silakan membaca tausiyah di Detik Ramadhan, dengan judul Ruh Kemandirian, yang intinya bahwa kewajiban beribadah tidak menggugurkan kewajiban mencari nafkah. Karena itulah dikatakan bahwa ahli ibadah di masjid tidak lebih baik daripada tetangganya yang memberi makan. Lebih baik berusaha daripada berdiam diri... mencari nafkah itu adalah kewajiban! Jika kita mandiri dan mempunyai rizqi lebih maka kita dapat membantu sesama yang membutuhkan.

Semoga dengan adanya fatwa haram mengemis tersebut jumlah pengemis di Indonesia akan berkurang, baik pengemis dalam arti sebenarnya, maupun "pengemis-pengemis" yang lain, yang tampilan luarnya keren tetapi mentalnya sama saja dengan pengemis. Siapa yah....


by melati
Lanjut Bacanya - pngemis

sunyi

maka kau pasti kembali
dalam genggaman sunyi
sendiri
sebuah kekuatan maha dahsyat
akan memaksamu pergi
dari semua yang kau sayangi
pesta pora yang mewah dan meriah
baju kebesaran yang pongah,
megah lagi indah
yang membuatmu sombong,
mendongakkan kepala,
membusungkan dada,
berjalan dengan congkak
di muka bumi...

maka mengapa kau tak lagi punya nurani
tak kau rasa sejuknya embun pagi
tak kau sapa hangat mentari
kau tak peduli semua
kecuali diri sendiri
rakus akan kekuasaan
dan berlebihnya kebanggaan
padahal kau tak tahu
kapan perjalananmu akan terhenti
pada titik sunyi
lalu kau pun tercenung
dalam penyesalan yang panjang
dan teramat panjang...

maka setelah itu sunyi,
sepi,
sendiri,
semua tak lagi berarti
ah, seandainya kau mengerti...

(Ya Tuhan kami,
Engkaulah Sang Pembeda
jelaskanlah kepada kami perbedaan itu
putih dari hitam,
terang dari gelap,
benar dari salah
Engkaulah pemilik kebenaran yang hakiki
jika di dunia ini dia tersembunyi
maka di sisiMulah kelak dia terbukti!)
Lanjut Bacanya - sunyi

Kamis, 30 Desember 2010

Doa Penawar Rasa Pesimis dan Merasa Sial

Doa Penawar Rasa Pesimis dan Merasa Sial

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Allaahumma Laa Khaira Illaa Khairuka, wa Laa Thaira Illaa Thairuka, wa Laa Ilaaha Ghairuka
“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (Hadits shahih, riwayat Ahmad)
Dasar Hadits
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa tebusan bagi hal itu?” Beliau bersabda, “Hendaknya salah seorang mereka membaca,
اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR. Ahmad: 2/220, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Ta’liq Musnad Ahmad no. 7045)
Apa itu Thiyarah?
Istilah Thiyarah atau Tathayyur berasal dari kata thair(burung). Karena bangsa Arab dahulu terbiasa meramal keberuntungan dan kesialan melalui burung dengan cara melepas burung. Jika ia terbang ke kanan, maka mereka bersemangat melanjutkan perjalan dan optimis mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, jika terbang ke kiri, mereka menganggap akan datang kesialan dan sehingga mengagalkan rencananya.
Thiyarah atau tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu, ataupun karena sesuatu yang sudah maklum, seperti menikahkan pada bulan Suro akan mendatangkan kesialan dan semisalnya. Dalam pengertian istilah ini, tathayur tidak hanya dengan isyarat burung saja.
Thiyarah atau tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu, ataupun karena sesuatu yang sudah maklum, seperti menikahkan pada bulan Suro akan mendatangkan kesialan. . .
Thiyarah termasuk adat jahiliyah. Mereka menyandarkan nasib baik dan buruk kepada burung, kijang atau objek tathayyur lainnya. Sehingga mereka memutus rasa tawakkalnya kepada Allah Ta’ala dan bersandar kepada selain-Nya. Ini merupakan kesyirikan yang mengurangi kesempurnaan tauhid. Kemudian syariat yang hanif ini membatalkannya. Syariat mengingkari semua bentuk tathayyur dan pengaruhnya dalam mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi seseorang.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menegaskan berulang kali dalam hadits-haditsnya yang meniadakan pengaruh thiyarah, “Tidak ada thiyarah.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk jannah tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diobati dengan cara Kay, tidak meminta diruqyah, dan tidak bertathayyur. Sedangkan hanya kepada Allah-lah mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)
Bahkan dalam hadits dari Ibnu Mas’ud secara marfu’, bahwa thiyarah bagian dari kesyirikan,
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik –sebanyak tiga kali-.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 429)
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)
Fungsi dan Manfaat Doa
Dalam kehidupan kita banyak keyakinan-keyakinan batil yang tersebar di masyarakat. Misalnya, ketika seorang muslim merencanakan safar, lalu sebelum berangkat ada burung gagak yang terbang dan suaranya yang berkoar-koar. Kemudian dia merasa akan datang musibah dan kesialan, sehingga dia menggagalkan rencananya atau tetap menjalankan rencananya dengan penuh kekhawatiran.
Merasa sial karena mendengar suara burung gagak di atas disebut tathayur (merasa sial/pesimis). Dan ini berlaku terhadap semua benda atau suara yang dijadikan sebagai objek tathayyur, misalnya melihat seorang buta ketika akan berdagang yang lalu muncul anggapan akan merugi dan semisalnya.
Keyakinan semacam ini termasuk perbuatan syirik yang menghilangkan kesempurnaan tauhid. Karena seseorang yang bertathayur telah memutus rasa tawakkalnya kepada Allah dan bersandar kepada selainnya. Juga, orang yang bertathayyur bergantung kepada sesuatu yang tidak jelas, bahkan hanya angan-angan dan hayalan yang tidak memiliki kaitan antara sebab dan akibat, baik langsung atau tidak. Orang yang berkeyakinan seperti ini, telah menciderai tauhidnya, karena tauhid adalah ibadah dan isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah semata. Sedangkan orang yang bertathayur akan mengagalkan rencananya tadi karena thiyarah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)
Dikabarkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa perasaan thiyarah (merasa sial/pesimis karena melihat atau mendengar sesuatu) sering hadir pada diri kita, tak seorangpun dari kita yang kecuali pernah terbersit thatayyur dalam hatinya. Bagi orang yang lemah iman, maka dia akan menggagalkan rencana dan hajatnya tersebut. Atau yang lebih ringan, dia tetap menjalankan tapi dengan dihantui rasa takut, khawati, dan was-was.
TATHAYYUR termasuk perbuatan syirik yang menghilangkan kesempurnaan tauhid.
Karena seseorang yang bertathayur telah memutus rasa tawakkalnya kepada Allah dan bersandar kepada selainnya.
Sedangkan cara untuk mengatasi rasa pesimis dan merasa sial tadi adalah dengan bertawakkal kepada Allah dengan tetap menjalankan rencana baiknya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata,
وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
Dan tidaklah salah seorang kita kecuali (terbersit thatayyur dalam hatinya) tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” (HR. Abu Dawud dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 429)
Dan salah satu cara untuk menangkal thatayyur –sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallamadalah- dengan membaca doa di atas yang berisi tawakkal kepada Allah dan berharap kebaikan dari-Nya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa tebusan bagi hal itu?” Beliau bersabda, “Hendaknya salah seorang mereka membaca,
اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR. Ahmad: 2/220, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Ta’liq Musnad Ahmad no. 7045)
cara untuk mengatasi rasa pesimis dan merasa sial karen tathayyur  adalah dengan bertawakkal kepada Allah dengan tetap menjalankan rencana baiknya dan berdoa dengan doa di atas.
Kandungan Doa
1. Doa di atas mengajarkan agar hati senantiasa bergantung kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak keburukan. Dan inilah tauhid yang sebenarnya. Jika demikan, maka thiyarah yang terbersit dalam hati seorang hamba tidak membahayakannya. Hal itu karena dia tidak mempercayainya sehingga tetap melaksanakan rencana/niat baiknya sambil menguatkan tawakkalnya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya, salah satunya dengan membaca doa di atas.
Sesunguhnya thiyarah bisa menyebabkan kerugian dan yang dikhawatirkan benar terjadi karena persangka buruknya. Hal itu diakibatkan karena tidak murni dan tidak benar tawakkalnya kepada Allah, dan karena menuruti bisikan-bisikan syetan.
2. Bahwa Allah semata yang mendatangkan kebaikan bagi hamba dengan iradah (keinginan) dan masyi’ah (kehendak)-Nya. Begitu juga Allah semata yang kuasa menangkal keburukan dan kesialan dari hamba dengan kuasa dan kebaikan-Nya. Karena tidak ada kebaikan kecuali itu berasal dari-Nya.
3.Jika ada keburukan yang menimpa hamba, maka hakikatnya keburukan itu berasal dari-Nya, hanya saja itu disebabkan oleh tingkah laku dan kemaksiatannya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
    مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
    Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. Al-Nisa’: 79)
      4. Doa di atas mengajarkan bahwa semua kebaikan ada di tangan Allah sehingga hanya kepada-Nya kita meminta dan bertawakkal.
      [PurWD/voa-islam.com]
      Oleh: Badrul Tamam
      Lanjut Bacanya - Doa Penawar Rasa Pesimis dan Merasa Sial